
YOGYAKARTA — LAZISMU Umbulharjo berkolaborasi dengan LAZISMU Kota Yogyakarta meluncurkan Program LAKU (Langkah Akselerasi Kemandirian UMKM) pada Rabu, 14 Oktober 2026. Program ini hadir sebagai upaya pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui dukungan permodalan serta pendampingan untuk memperkuat pengelolaan dan pengembangan usaha.
Peluncuran Program LAKU berlangsung di Kayla Hotel Yogyakarta, Gedongkuning, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta. Program ini turut melibatkan KUBI UAD (Kantor Urusan Bisnis dan Investasi Universitas Ahmad Dahlan) sebagai mitra pendampingan bagi para pelaku UMKM terpilih.
Program LAKU berangkat dari berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM dalam menjalankan usaha secara mandiri. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan modal, pengembangan ide bisnis, pengelolaan keuangan, hingga strategi untuk memperluas pasar. Bagi sebagian pelaku usaha, hasil UMKM juga menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Melalui program ini, LAZISMU berupaya menghadirkan pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada bantuan modal, tetapi juga pada penguatan kapasitas dan kemandirian pelaku usaha.
Melalui Seleksi, 10 UMKM Terpilih Menjadi Penerima Manfaat
Sebelum peluncuran, Program LAKU melewati tahapan seleksi untuk menentukan pelaku UMKM yang akan menerima manfaat program. Proses tersebut diawali dengan presentasi peserta pada 7–8 September 2026. Selanjutnya, pada 17–18 September 2026, dilakukan survei terhadap UMKM yang terpilih berdasarkan hasil presentasi dan proses seleksi sebelumnya.
Melalui rangkaian tahapan tersebut, sebanyak 10 UMKM ditetapkan sebagai penerima manfaat Program LAKU. Penetapan ini menjadi langkah awal untuk mendukung pengembangan usaha mereka melalui bantuan permodalan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan usaha.
Penguatan Modal dan Pendampingan Menjadi Fokus Program LAKU

Ketua LAZISMU Kota Yogyakarta, Nuryanto Hari Murti, menjelaskan bahwa Program LAKU diinisiasi untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM, khususnya dalam aspek permodalan dan manajerial.
“Program ini diinisiasi oleh Lazismu memang penguatan kapasitas modal dan manajerial,” ujar Nuryanto Hari Murti.
Menurutnya, tantangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan modal. Pelaku usaha juga membutuhkan kemampuan untuk mengelola keuangan dan menentukan langkah pengembangan usaha setelah usahanya mulai berjalan.
“Persoalan UMKM tidak berhenti pada modal. Walaupun usahanya lancar, tapi terkadang bingung uangnya mau cari ke mana lagi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Program LAKU tidak hanya memberikan stimulan tambahan modal usaha. Para peserta juga akan mendapatkan pelatihan pembukuan dan pengembangan usaha melalui pendampingan KUBI UAD. Pendampingan tersebut diharapkan membantu peserta mengelola keuangan dengan lebih baik serta menyusun langkah pengembangan usaha secara terarah.
Nuryanto juga menekankan bahwa pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu bentuk pemanfaatan dana zakat yang berorientasi pada pertumbuhan dan kemandirian masyarakat.
“Jadi makna zakat di Lazismu itu tumbuh. Jika muzaki berzakat, uangnya tidak langsung habis karena kita mengadakan pemberdayaan ekonomi,” jelasnya.
Program LAKU Diharapkan Menjadi Praktik Baik Pemberdayaan UMKM

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Umbulharjo, Safroni Syarifuddin, menyampaikan apresiasi atas peluncuran Program LAKU. Ia berharap program ini dapat menjadi praktik baik atau best practice yang dapat menginspirasi wilayah lain dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat.
“Mari kita bekerja sama dalam kebaikan ini. Senantiasa kita pupuk, senantiasa kita lakukan secuil apa pun kebaikan itu. Kalau kemudian senantiasa kita pupuk dan kita laksanakan, insya Allah akan memberikan kemanfaatan yang sangat besar bagi kita semuanya,” tuturnya.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta, Kadri Renggono, menyampaikan apresiasinya terhadap Program LAKU. Menurutnya, keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar, kedisiplinan, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi.
Ia menyoroti bahwa banyak UMKM telah memiliki produk yang baik, tetapi masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan usaha, pemasaran, penguatan merek, pengemasan produk, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.
“Pelaku usaha perlu modal, tetapi juga perlu ilmu, pendampingan, jejaring, dan pasar,” ujarnya.
Kadri menilai bahwa kolaborasi dalam Program LAKU merupakan salah satu upaya yang perlu diperkuat untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan zakat, infak, dan sedekah sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi.
“Ini model pemberdayaan yang perlu kita perkuat. Zakat, infak, dan sedekah mempunyai kekuatan besar apabila mampu menjadi pengungkit ekonomi,” tegasnya.
Bersama Menguatkan Kemandirian UMKM melalui Zakat, Infak, dan Sedekah
Peluncuran Program LAKU menjadi langkah awal bagi LAZISMU Umbulharjo dan LAZISMU Kota Yogyakarta dalam mendukung pertumbuhan usaha para penerima manfaat. Selanjutnya, pendampingan terhadap 10 UMKM terpilih akan dilakukan untuk membantu mereka memperkuat pengelolaan usaha dan mengembangkan potensi bisnisnya.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan dana zakat, infak, dan sedekah agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Melalui pemberdayaan ekonomi, dana yang dititipkan oleh para muzaki dan donatur diharapkan dapat mendukung tumbuhnya usaha serta memperkuat kemandirian penerima manfaat.
LAZISMU Umbulharjo menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung program pemberdayaan ini. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi amal yang membawa keberkahan, memberikan manfaat bagi para penerima manfaat, serta menjadi jalan tumbuhnya UMKM yang lebih mandiri dan berdaya.
Aamiin.
Ada Pertanyaan?
Silahkan hubungi admin atau kunjungi media sosial kami

